Syahadat

Pasal 1 Rukun Islam (Syahadat)
Penulis : Muhammad Fauzi Ramadhani
Syahadat, Shalawat, dan Dzikir dalam Kajian Biologis
            Seperti kita ketahui bersama di pasal 1 kitab Safinah yang membahas tentang Rukun Islam, terdapat subpasal syahadat. Syahadat menurut para Ulama merupakan persaksian dari seseorang yang telah mempercayai dua hal, yakni iman dan percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasulullah. Persaksian tersebut merupakan komitmen keimanan seseorang yang tidak sebatas ikrar, namun diwujudkan dalam ranah amaliyah-aplikasi religiusitasnya. Sebuah ikrar dan persaksian mengandung konsekuensi tersendiri, yaitu berupa ketaatan dan kepatuhan terhadap segenap doktrin atau perintah Allah dan Rasulullah. Di dalam kitab Safinah para ulama telah membahas tentang syahadat, yaitu apakah persaksian/ syahadat tersebut harus diikrarkan atau dilafadzkan melalui lisan dan diyakini dengan hati? Atau persaksian itu cukup diyakini dengan hati, tanpa dilafadzkan dengan lisan? Para ulama telah memberikan pandangannya masing-masing terkait hal tersebut.
            Disini tidak akan dibahas terkait perbedaan para ulama dalam menyikapi subpasal syahadat tersebut, tetapi akan dibahas terkait syahadat, shalawat, dan dzikir dalam kajian biologis. Saya mengambil bahasan ini dikarenakan antara syahadat, shalawat, dan dzikir terdapat keterkaitan satu sama lain. Keterkaitan tersebut meliputi beberapa aspek, seperti aspek perintah Allah di dalam Al-Quran serta Hadits Nabi SAW, seperti yang tertera di dalam Q.S. Ali Imran : 18 yang menerangkan tentang perintah untuk bersyahadat (bersaksi).
1
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiadalah ilah (yang berhak disembah) selain Dia.” (Q.S. Ali Imran : 18).
            Serta ada hadits yang berasal dari Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Islam dibangun diatas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilaah yang berhak disembah kecuali Allah semata dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan shaum di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
                Dalil tentang anjuran bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
2
 “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)
            Sedangkan perintah Allah untuk berdzikir juga banyak terdapat di ayat Al-Quran, seperti yang tertera dalam Q.S. Al-Ahzab : 41-42.
3
  1. Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang (Q.S. Al-Ahzab : 41-42).
                Aspek selanjutnya yang menunjukkan keterkaitan antara ketiga bahasan kita diatas adalah aspek pelaksanaannya. Syahadat, shalawat, dan dzikir dalam pelaksanaannya mempergunakan dua organ tubuh kita secara fisik, yaitu lisan (mulut) dan hati (qalbu). Di dalam kitab safinah kebanyakan ulama menyepakati bahwa syahadat adalah meyakini dengan hati serta mengikrarkan lewat lisan. Pelaksanaan shalawat dalam keseharian juga kita ketahui bahwa shalawat juga dilandasi atas dasar keyakinan dan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, lantas kita wujudkan dalam bentuk sholawat kepada Beliau melalui lisan kita. Dzikir pun demikian, kita yang telah meyakini atas Kuasa Allah SWT, lantas Allah pun memerintahkan kita untuk berdzikir/ mengingatnya di siang dan malam baik mengingat secara lisan maupun mengingat secara pikiran.
       Kedua aspek tersebut menjadi titik keberangkatan saya untuk membahas keterkaitan antara syahadat, shalawat, serta dzikir. Hal yang paling saya soroti adalah adanya persamaan pelaksanaan dari syahadat, shalawat, serta dzikir, yang mungkin jika dikaji secara biologis akan kita temukan keterkaitannya. Penjelasan secara biologis terkait syahadat adalah merujuk pada sistem syaraf manusia. Sistem saraf merupakan jalur utama informasi biologis, bertanggung jawab mengendalikan seluruh proses biologi dan gerakan tubuh dan dapat menerima informasi serta menginterpretasinya melalui sinyal elektrik di dalam sistem. Sistem saraf ini memiliki tiga komponen utama yaitu, reseptor (penerima rangsang), penghantar impuls, serta efektero (yang menanggapi rangsangan).
            Berdasarkan pernyataan di atas, dapat kita ambil penggambaran bahwa, dalam pelaksanaan syahadat melibatkan hati (qalbu) serta lisan yang keduanya memiliki peran yang berbeda. Hal ini pun terjadi pada saat kita bershalawat dan berdzikir, akan ada hubungan antara hati dengan lisan. Lisan memiliki peran sebagai efektor (penanggap rangsangan) di rongga mulut, setelah seseorang itu mendapatkan impuls (rangsangan) berupa informasi tentang Kemaha Esaan Allah SWT. Seorang manusia yang telah meyakini serta mengimani bahwa tiada Tuhan selain Allah, serta Muhammad adalah utusan-Nya, ia akan dikomandoi oleh pikirannya yang berperan sebagai pengahantar impuls, sehingga dia akan mengikrarkan keyakinannya itu melalui lisan. Hal ini terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang apakah bersyahadat itu harus dengan lisan dan hati, atau boleh dengan hati saja tanpa mengikrarkan melalui lisan. Hubungan antara hati, pikiran, dan lisan dalam syahadat, sholawat, serta dzikir tidak jauh berbeda mekanismenya. Ketiganya memiliki mekanisme yang hampir sama, yaitu informasi sebagai impuls didapatkan dari lingkungan berupa informasi keagamaan, kajian-kajian, serta dari Al Quran dan Hadits, kemudian informasi itu diterima oleh hati yang berperan sebagai reseptor yang menerima rangsang tersebut, yang akhirnya bisa membikin seseorang semakin bertambah keyakinannya, lantas oleh pikiran serta akal, informasi tersebut diteruskan kepada lisan sebagai efektor atau penanggap rangsang secara sadar melalui peran komando dari otak. Mekanisme ini gamblangnya dijelaskan dari mekanisme sistem saraf itu sendiri.
            Menurut saya dengan memahami keterkaitan antara ketiga hal di atas, yaitu syahadat, shalawat, serta dzikir yang sama dalam aspek pelaksanaan ini, bisa meningkatkan serta menumbuhsuburkan pohon keimanan dan keyakinan seseorang. Karena, kita telah memiliki bahan sains yang bisa merelevankan antara agama dengan nalar/ pikiran kita, sehingga kita akan semakin bisa meningkatkan keimanan seraya menambah kekhusyukan serta semangat ibadah yang tinggi. Pada akhirnya, dengan menemukan pemaknaan dan penjelasan syahadat, shalawat, dan zikir secara sains, membawa kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta menambah rasa syukur yang tidak akan ada habis-habisnya bagi saya selaku civitas akdemik Biologi. Sebab, antara Biologi dan Islam bukanlah suatu hal yang beda sekali, karena saya adalah mahasiswa Biologi, maka saya adalah juga mahasiswa ilmu Keislamanan, yang mana ini hanya sebuah ijtihad, bahwa di biologi mempelajari makhluk hidup, makanya pasti tidak bisa dilepaskan dari Islam.
            Akhirnya, mungkin bahasan tentang syahadat, shalawat, dan dzikir dalam kajian Biologis sekian dulu, banyak hal yang bisa kita kupas dan kita kaji, semoga yang sedikit ini bisa menjadi kunci yang dapat membuka pintu pengetahuan yang masih terhampar luas. Allahumma Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar tentang Kitab Safinah

The Journey Begin