Sholat
Pasal 1 Rukun Islam (Sholat)
Penulis :Insaaniy Mahdiyatul Haqq
Penulis :Insaaniy Mahdiyatul Haqq
URGENSI SHALAT TERHADAP MASALAH KEJIWAAN


Shalat merupakan rukun islam yang kedua setelah syahadat. Maka dari itu, sudah kewajiban kita sebagai umat muslim untuk melaksanakan shalat fardhu. Dewasa ini, banyak orang yang sering menunda-nunda shalat. Mereka memiliki alasan-alasan ‘klasik’ terkait urusan duniawi. Terkadang orang-orang seperti mereka merasa bahwa tuntutan agama islam telah memberatkan para penganutnya. Walaupun begitu, realita menunjukkan bahwa aturan agama akan memudahkan kita dalam segala urusan duniawi. Inilah mindset yang perlu diperbaiki mengenai sudut pandang tuntutan agama islam terutama shalat fardhu.
Ketika kita shalat dengan khusyuk, itu artinya kita telah menyerahkan segala urusan duniawi kepada Allah Swt. Sepintar dan sekuat apapun manusia, pada hakikatnya mereka adalah makhluk yang lemah. Sekeras apapun manusia berusaha, segala harapannya tidak akan terkabul tanpa kuasa Allah Swt. Kita akan merasa bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita mencurahkan beban hidup dan dapat memberikan kepastian dari segala keinginan kita.
Kita akan selalu merasakan ketenangan setelah memanjaatkan doa kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Menurut Salim (2009:152) dalam bukunya yang berjudul Sehat Jiwa Raga dengan Shalat, manfaat sholat yaitu :
“Dengan cara menghadap ke arah kiblat, memulai shalat dengan khusyuk dan tenang, seseorang secara otomatis telah melakukan olahraga batin dan olah jiwa yang dapat menjernihkan akal pikiran dan ketenangan jiwa. Pertemuan yang terjadi antara seorang hamba dan Rabbnya pada setiap shalat dapat membantu orang tersebut berkhalwat dengan diri sendiri untuk bermunajat kepada Allah, mengadukan segala keluh kesah dan masalah, serta memohon ampun dan pertolongan-Nya. Dengan adanya penjelasan hubungan antara seorang hamba dan Maharaja Allah Swt., seseorang dapat mengistirahatkan dirinya secara total, yaitu akal pikiran dan susunan saraf yang penuh dengan emosi, ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan. Kemudian menghasilkan unsur-unsur ketenangan, kelonggaran, dan ketenteraman yang beranding terbalik dengan beberapa dampak dari unsur-unsur tersebut terhadap sistem tubuh yang berbeda-beda”.
Kutipan tersebut sangat sesuai dengan firman Allah Swt. bahwa Alla akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang shalat, jadi untuk apa kita merasa khawatir jika menggantungkan segala harapan kita hanya kepada Allah Swt.
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (Qs. Thaha : 132)
Dengan kita shalat dan mengistirahatkan otak dari segala urusan duniawi, itu sama saja dengan menjaga kesehatan otak kita. Akal adalah hasil dari aktifitas biokimia di otak. Emosi, perasaan, dan perangai berhubungan erat dengan kimia otak. Oleh karena itu, otak diibaratkan sebagai pusat laboratorium kimia (Salim, 2009:146).
Sifat manusia selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Bisa jadi hari ini dia sedang merasa senang. Akan tetapi, esok hari dia menjadi lebih emosional dan sedih. Terkadang dia suka beraktifitas, dan terkadang dia malas melakukan segala aktivitas apapun. Suatu hari dia lebih cenderung kepada keributan. Namun, di lain hari dia lebih ingin mencari ketenangan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seseorang terebut bergantung pada kondisi susunan saraf dan kelenjar endokrin (Salim, 2009:148)
Misalnya ketika seseorang merasa takut atau shock, maka tubuh akan mengeluarkan hormon adrenalin. Hormon tersebut akan dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar yang berada di atas ginjal. Di sisi lain, ketika tubuh mengalami kelelahan yang luar biasa, kulit lapisan luar kelenjar adrenalin akan mengeluarkan hormon noradrenalin. Hormon ini akan membantu menambah ketenangan, konsentrasi, meminimalisasi perasaan lelah, dan menyiapkan tubuh secara biologis untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam keadaan marah dan perlawanan (Salim, 2009:148).
Ketika kita merasa khawatir, takut, atau pun marah, maka tubuh kita akan terus-merus megeluarkan hormon adrenalin dan noradrenalin. Hal tersebut dapat menimbulkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh kita sehingga sangat membahayakan otak selaku pengendali tubuh. Kejadian ini dapat mengakibatkan kekacauan pikiran dan tingkah laku yang menyimpang (Salim, 2009:149-150). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa shalat sangat penting untuk mengendalikan kejiwaan kita agar terhindari dari perilaku meyimpang.
Sumber : Salim, M. 2009. Sehat Jiwa Raga dengan Shalat. Klaten: Wafa Press
Komentar
Posting Komentar